Hikayat Prang Sabi Keneubah Jroeh Yang Ka Trep Gadoeh

Oleh: Parisha, Alumnus UIN Sunan Kalijaga*

Hikayat Prang Sabi merupakan manifestasi perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme dan Imperialisme Belanda 1873. Konteks sosial-politik telah mempengaruhi pengarang menulis sebuah karya sastra dalam bentuk hikayat. Tengku Haji Muhammad Pante Kulu atau yang lebih dikenal dengan nama Teungku Chik Pante Kulu, merupakan pengarang sajak-sajak heroik perang terbesar di Aceh, sekaligus seorang pemimpin perang dan ulama karismatik Aceh. Ia lahir pada tahun 1251 H (1836) di desa Pante Kulu, kemukiman Titeue, Kabupaten Pidie, Dan memiliki hubungan kerabat dengan ulama Tiro. Karya sastra yang ditulis pada akhir abad 19 ini menjadi senjata baru bagi rakyat Aceh yang dikobarkan oleh Teungku Chik Pante Kulu sebagai badal pengganti rencong untuk melawan Belanda.

Hikayat Prang Sabi yang dikarang oleh Tengku Chiek Pante Kulu sangat panjang dan memiliki isi kandungan yang cukup luas. Memiliki karakteristik dan sistematika penulisan yang sangat indah dengan menggunakan aksara Arab Jawoe yang saat ini mulai terasing dari kehidupan kita. Hikayat Prang Sabi memiliki karakteristik huruf tersendiri yang independen dari aksara Arab yang jamak kita kenal hari ini. Hal sedemikian mengaharuskan kita memahami terlebih dahulu bagaimana konsep penulisan dan teori sastra hikayat Aceh sebelum membacanya. Pengetahuan seperti ini dapat membantu kita dalam membaca Hikayat Prang Sabi dan teks – teks sastra Aceh lainnya.

Hikayat Prang Sabi terdiri dari 4 kisah utama yang menceritakan (1) Kisah Ainul Mardhiah, (2) Kisah Pahala Syahid, (3) Kisah Said Salmi, dan (4) Kisah Muda Bahlia. Dalam setiap narasi Tengku Chiek Pante Kulu selalu menjadikan Al-Quran dan Hadis sebagai landasan epistemologinya, Ia menjelaskan dan menafsirkan  kedua teks tersebut dengan menggunakan bahasa Aceh yang dapat memudahkan muda mudi Aceh dalam memahami dan mengingat apa yang Ia sampaikan. Semua kisah itu sengaja dikarang dalam konteks perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda, sehingga dapat membangkitkan semangat perlawanan masyarakat Aceh untuk terjun ke medan perang.

Kisah Ainul Mardhiah merupakan cerita fiktif yang dikarang oleh Tengku Chiek Pante Kulu dalam Hikayat Prang Sabi. Dalam kisah ini ia melukiskan bagaimana balasan yang begitu besar terhadap orang yang rela mati membela agama Allah dan negerinya dari gangguan orang kafir. Tujuan dari kisah ini yaitu untuk memotivasi mereka yang tidak mau berperang dengan alasan belum menikah. Karena Allah akan menghadiahkan bidadari yang lebih cantik daripada gadis-gadis impiannya di dunia ini.

Dalam Kisah Pahala Syahid, Tengku Chiek Pante Kulu menggambarkan seorang pahlawan perang yang rela meninggalkan anak dan istrinya demi berperang di jalan Allah. Tengku Chiek Pante Kulu menjelaskan bagaimana pahala orang-orang yang berperang melawan musuh-musuh Allah dan Nabi Muhammad Saw. Bagi mereka yang berperang, Allah akan mengirimkan malaikat sebagai bala tentara pasukan tambahan untuk membantu mereka yang sedang berperang di jalan Allah. Di samping itu, Allah juga akan menjaga anak dan istrinya, memuji serta membukakan pintu syurga bagi mereka yang mati syahid.

Adapun Kisah Said Salmi menceritakan tentang seorang budak yang telah dimerdekakan tuannya. Rupanya sangat buruk, hitam pekat, muka yang dipenuhi dengan bekas irisan pisau. Sampai pada suatu hari ia menikah dan keesokan harinya ia syahid karena harus ikut berperang di jalan Allah. Tengku Chiek Pante Kulu ingin menjelaskan dalam kisah ini bahwa sesungguhnya orang yang mati syahid tidaklah mati, akan tetapi dia tetap hidup disisi Allah. Bagi mereka yang syahid, Allah akan mengizinkan mereka pulang ke rumah untuk menemui istri dan keluarganya.

Terakhir Kisah Muda Bahlia yang menceritakan seorang pemuda yang tidak dibunuh oleh kaum kafir, melainkan disayangi karena cahaya yang melekat diwajahnya. Ia seorang pemuda yang shaleh lagi bertaqwa kepada Allah. Muda Bahlia sangat yakin dalam hatinya bahwa pertolongan Allah sangatlah besar. Tengku Chiek Pante Kulu ingin memotivasi masyarakat Aceh bahwa prang sabil sangatlah indah disisi Allah, karena prang sabil merupakan suruhan Tuhan, bukan orang lain. Seperti halnya Muda Bahlia, orang Aceh yang berjihad melawan penjajah senantiasa akan mendapatkan pertolongan dari Allah.

Dalam konteks saat ini Hikayat Prang Sabi kian bertranformasi. Jika dulu Teungku Chiek Pante Kulu mengarangnya dalam bentuk hikayat, hari ini ia hanya dipahami sebagai sebuah lagu yang dapat diaplikasikan bukan hanya sekadar untuk melawan kaphe penjajah, melainkan juga sebagai instrument perlawanan terhadap pemerintah Indonesia yang notabenenya mayoritas beragama islam. Meskipun begitu, Lagu Prang Sabi terbukti lebih efektif daripada hikayat itu sendiri. Ia cukup berperan dalam mempengaruhi psikologi alam bawah sadar rakyat Aceh dalam konteks perjuangan apapun. Buktinya ia juga dapat diaplikasikan dalam perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) semasa peperangan dahulu dan perlawanan rakyat sipil dalam berbagai aksi demontrasi, seperti aksi menuntut referendum 21 tahun silam. Bahkan Lagu Prang Sabi ini juga terdengar saat Aksi Bela Islam di Jakarta pada 2016 silam dan peringatan ulang tahun GAM beberapa waktu yang lalu. Berikut cuplikan bait-bait syair yang sering dijadikan sebagai slogan.

Subhanallah Wahdahu Wabihamdihi
Khaliqul badri walaili `Azza wa Jalla
Ulon Pujoe po sidroe po
Syukor keu Rabbi Ya `aini
Keu kamoe neubri beu suci Aceh mulia
Tajak prang musoh beuruntoh dum sitre Nabi
Nyang meu ungki keu Rabbi keu po nyang Esa
Meusoe hantem prang cit malang ceulaka tuboh rugoe roh
Syuruga tan roh rugoe roh balah nuraka.

Jika mencermati kembali isi kandungan yang terdapat dalam Hikayat Prang Sabi, cuplikan bait-bait syair seperti di atas yang sering dilantunkan dengan nada dan irama yang syahdu bukanlah bagian dari Hikayat Prang Sabi seperti stigma dan persepsi publik tentang Hikayat Prang Sabi. Bait-bait syair itu merupakan ringkasan dari Hikayat Prang Sabi, bukan Hikayat Prang Sabi itu sendiri. Intisari dari Hikayat Prang Sabi diperas sedemikian rupa oleh seniman-seniman di Aceh dalam bentuk sesederhana mungkin. Sampai pada akhirnya ia dijadikan lagu untuk membangkitkan semangat perjuangan. Maka dari itu, bait-bait syair di atas lebih tepat dikatakan sebagai Lagu Prang Sabi, bukan Hikayat Prang Sabi. Karena pada hakikatnya Hikayat Prang Sabi yang ditulis oleh Tengku Chiek Pante Kulu memiliki karakteristik dan suistematika penulisan yang berbeda dengan lagu di atas.

Tengku Chiek Pante Kulu telah mengarang hikayat tersebut dengan sangat bagus dan sistematis. Jika dulu Tengku Chiek Pante Kulu menyumbang sebuah hikayat untuk membangkitkan semangat perang, kini saatnya kita membangkitkan masyarakat Aceh untuk mengenang karya sastra legendaris yang satu ini. Penulis berharap pelajaran bahasa Aceh beserta ejaannya bagi para siswa di setiap madrasah dijadikan sebagai pendidikan modern yang nantinya akan melahirkan kembali generasi pujangga-pujangga penulisan hikayat seperti Tengku Chiek Pante Kulu.