Pesantren Tgk Chiek Oemar Diyan menggelar yudisium bagi 147 santri akhir tahun 2026 di Aula STB, Oemar Diyan, Indrapuri, Aceh Besar. Minggu (19/04/2026).
Yudisium tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Yayasan Bapak Ilmiza Saaduddin Jamal MBA bersama pimpinan dayah Teungku H Fakhruddin Lahmuddin MPd sebagai penanda berakhirnya masa pendidikan santri sekaligus pelepasan menuju jenjang berikutnya.
Sebanyak 147 santri yang diyudisiumkan terdiri dari 63 santri putra dan 84 santri putri. Dari sisi capaian akademik, terdapat 9 santri meraih predikat Istimewa (Mumtaz), 56 santri Sangat Baik (Jayyid Jiddan), 61 santri Baik (Jayyid), dan 21 santri Cukup (Maqbul).
Rata-rata nilai santri tahun 2026 tercatat sebesar 72,90, meningkat dibandingkan tahun 2025 yang berada pada angka 70,38 atau naik sebesar 2,52 poin.
Pada kesempatan tersebut, Rektor IAIN Takengon Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL menyampaikan tausiyah yang menekankan tiga aspek utama bagi para alumni. Ia menegaskan pentingnya menjaga semangat belajar sepanjang hayat, membangun jejaring pertemanan sebagai modal masa depan, serta mempertahankan akhlakul karimah dalam setiap aktivitas.
Menurutnya, kegagalan kerap bukan disebabkan kurangnya kemampuan, melainkan lemahnya sikap dan karakter.
Dalam kegiatan tersebut, penghargaan santri teladan diberikan kepada Nurul Rizkiya dan Al Fahri Razi Zakwansyah.
Selain itu, capaian akademik lainnya juga terlihat dari keberhasilan 61 santri yang lulus seleksi nasional SPAN-PTKIN 2026 yang diumumkan pada Selasa (7/4/2026).
Para santri diterima di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, dengan mayoritas masuk ke UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta sejumlah kampus lain seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA).
Program studi yang berhasil ditembus pun beragam, mulai dari Pendidikan Bahasa Inggris, Perbankan Syariah, Ekonomi Syariah hingga Hukum Ekonomi Syariah.
Kepala Madrasah Aliyah Tgk Chiek Oemar Diyan, Ustadz Jawahir, S.Pd.i menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerjasama antara santri, guru, dan dukungan orang tua.
“Kelulusan 61 santri melalui jalur tanpa tes ini menunjukkan bahwa kualitas akademik dan pembinaan karakter di pesantren mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Selain itu, sebanyak 14 santri juga dinyatakan lulus Ujian Tahdid Mustawa sebagai syarat melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Pada capaian tersebut, Nurul Rizkiya mencatat prestasi tertinggi dengan nilai akhir 90.
Yudisium ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga refleksi atas kualitas pendidikan pesantren yang menunjukkan tren peningkatan, baik dari sisi nilai akademik maupun daya saing lulusan di tingkat nasional dan internasional.
*Narasi, Arasha
**Sumber Foto, Raif Al Ghifari
Tinggalkan Komentar